Thursday, May 7, 2015

Langkah-langkah Menulis Puisi

Selain proses pemadatan dan pemusatan, dalam menulis puisi juga kita perlu menyusun kerangka karangan. Perhatikan langkah-langkahnya berikut ini.

A. Menentukan tema puisi

Tema puisi merupakan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh pengarang dalam suatu puisi secara keseluruhan. Dengan kata lain, tema puisi merupakan dasar cerita atau titik tolak pengarang dalam menyusun suatu puisi.
 
B. Menentukan bentuk dan struktur puisi
 
Bentuk dan struktur puisi dapat mengintensifkan makna puisi yang ingin diungkapkan pengarang.
 
C. Pilihan kata/diksi
 
Bagi penyair, kata bukan hanya sekedar mengandung arti, tetapi mengandung nilai. Oleh karena itu, dalam menulis puisi diperlukan pilihan kata yang tepat. Gunakanlah kata kongkret, tidak sekedar nyata atau jelas, tetapi juga padat.
 
D. Gunakan daya imajinasi dalam penyajian
 
Gunakan daya imajinasi atau daya bayang anda dalam penyajian puisi. Segala sesuatu yang pernah menyentuh perasaan anda, singgah dan tersimpan dalam pikiran anda, ungkapkan dalam bentuk pilihan kata, atau susunan kata yang tepat dengan mempertimbangkan nilai rasa atau estetik kata. Kata yang anda pilih harus dapat mewakili perasaan: senang, sedih, kecewa, marah, dan lain-lain yang terlintas dalam imajinasi anda.
 
E. Gunakan gaya bahasa atau majas
 
Untuk menciptakan daya imajinasi yang baik, sehingga pembaca puisi dapat merasakan apa yang dirasakan pengarang, dapat dilakukan dengan cara menggunakan gaya bahasa atau majas, seperti:
 
1. Hiperbola, menyatakan sesuatu dengan gaya bahasa berlebihan. 
Contoh: Suaranya menggelegar membelah angkasa.

2. Metafora, menggambarkan sesuatu dengan membandingkan dengan sesuatu lain.
Contoh: Kita adalah tiang negeri ini.

3. Personifikasi, menggambarkan benda mati seperti halnya manusia.
Contoh: Batu-batu karang itu melihat dan menyaksikan cinta.

4. Paralelisme, mengulang isi kalimat dengan kalimat lain yang sama.
Contoh: Segenap daratan telah kujalani, segenap lautan telah kuarungi.

5. Enumerasi, memberikan intensitas dengan memerinci masalah. 
Contoh: Dalam suka, dalam duka bahkan aku kecewa padamu aku tetap setia.
 
F. Gunakan unsur bunyi atau irama secara tepat
»»  READMORE...

Menulis Puisi dengan Memperhatikan Diksi dan Gaya Bahasa

Proses Pemusatan dan Pemadatan dalam Penulisan Puisi

Karya sastra puisi berbeda dengan karya sastra prosa. Karya sastra puisi bersifat pemusatan (konsentrif) dan pemadatan (intensif). Pengarang tidak menjelaskan secara terperinci apa yang ingin diungkapkannya. Pengarang hanya mengutarakan apa yang menurut perasaannya atau pendapatnya merupakan bagian yang pokok atau penting saja. Pengarang mengadakan konsentrasi dan intensifikasi atau pemusatan dan pemadatan, baik pada masalah yang akan disampaikannya maupun juga pada cara penyampaiannya. Dalam karya sastra puisi akan terasa penghematan unsur-unsur bahasa. Kata- kata yang tidak berfungsi benar mendukung makna akan dihilangkan, demikian pula halnya dengan tanda-tanda baca hampir dihilangkan.
 
Akibat dari usaha intensifikasi tersebut, yang menjadi perhatian pengarang dalam menulis puisi adalah bunyi bahasa dan bentuk. Dalam memilih kata-kata pengarang tidak hanya mendasarkan pada artinya saja tetapi juga memperhatikan nilai "rasa"; yaitu pengaruh yang mungkin dapat ditimbulkan oleh unsur-unsur bunyi bahasa tersebut. Penyusunan kata-kata atau baris-baris kalimat bukan hanya terbatas pada indahnya bentuk, melainkan juga pada pengaruh pada makna puisinya.
 
Perhatikan proses penulisan puisi berikut!

Perasaan yang ingin diungkapkan dalam bentuk prosa sebagai berikut. 

Tuhanku!
Sekarang ini aku dalam keadaan termangu resah dan gundah 
Tetapi aku tetap berusaha menyebut nama-Mu
 
Biarpun sekarang ini aku merasa sungguh-sungguh susah, aku tetap 
berusaha untuk mengingat-Mu dengan segenap kekuatan hatiku.

Dari uraian perasaan di atas, pengarang melakukan pemadatan dan pemusatan. Kata-kata yang tidak mendukung makna dibuang, bunyi kata yang tidak memiliki nilai "rasa" diganti atau diubah tata letaknya, sehingga seperti berikut.
 
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh 
Mengingat Kau penuh seluruh
 

»»  READMORE...

Monday, May 4, 2015

Citraan Pencicipan atau Pencecapan dalam Sebuah Puisi

Citraan pencicipan disebut juga citraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam, manis, atau pedas.

Berikut  contoh  larik-larik  puisi  yang  menimbulkan  citraan pencicipan atau pencecapan.

Pembicaraan

Hari mekar dan bercahaya:
yang ada hanya sorga. Neraka
adalah rasa pahit di mulut
waktu bangun pagi


Karya Subagio Sastrowardojo
»»  READMORE...
 
Speak In Bahasa is proudly powered by Blogger.com | Template by OzoneTemplate